Jumat, 24 November 2017

Korban Sandera KKB Papua Tiba Di Semarang Dengan Selamat

[Foto Humas Jateng]
Semarang –kabarjateng.com- Sebanyak 43 warga Jawa Tengah yang menjadi korban sandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, Rabu (22/11) tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang dengan selamat. Mereka tiba pada pukul 19.20 WIB menggunakan maskapai Sriwiaya Air bernomor penerbangan SJ 589.
Kedatangan mereka disambut Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Provinsi Jateng Achmad Rofai, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah Wika Bintang, serta Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Demak  Eko Pringgo Laksito. Begitu tiba, mereka dipersilakan menikmati hidangan soto yang sudah disediakan dan melakukan cek kesehatan. Berdasar hasil pengecekan kesehatan, banyak eks sandera KKB yang menderita infeksi saluran pernafasan akut akibat kelelahan dan kurang nutrisi selama disekap.
Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Provinsi Jateng Achmad Rofai mengatakan, Pemerintah Provinsi Jateng berperan membantu memfasilitasi pemulangan para eks sandera KKB Papua dari Mimika Papua hingga ke daerah asalnya di Demak dan Rembang. Dari bandara sampai ke Demak dan Rembang, pihaknya sudah menyediakan bus besar.
Ahmad Rofai menuturkan, saat ini pihaknya masih fokus memulangkan mereka agar aman. Apabila nanti membutuhkan keterampilan untuk bekal mereka bekerja di Jawa Tengah, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi siap memfasilitasi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Wika Bintang membenarkan pernyataan tersebut. Pihaknya siap membantu memberikan bekal keterampilan yang dibutuhkan.
“Nanti kalau mereka mau alih profesi, tidak mau berangkat kesana (Papua) lagi, kemudian mau dilatih, misalnya buka bengkel, apakah mau kursus keterampilan, kalau mereka siap, kita bantu,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Eko Pringgo Laksito merinci, jumlah korban sandera KKP yang dipulangkan sebanyak 38 orang dari Demak, dan lima orang dari Rembang. Awalnya, korban dari Demak yang hendak dipulangkan sebanyak 39 orang. Namun, satu orang urung kembali ke Jawa Tengah.
“Sudah kita belikan tiket untuk 39 orang dari Demak. Tapi, pagi-pagi satu orang mendadak membatalkan. Satu orang yang membatalkan itu bernama Kusriyanto dari Desa Kedondong,” bebernya.
Saat ditanya kondisi kesehatan para korban, Eko menuturkan, secara fisik mereka baik-baik saja. Namun, secara psikis mesti dibangun kembali karena trauma dengan kejadian penyekapan yang dialami
Kesaksian Korban 
Salah satu korban yang mengaku trauma dengan kejadian penyekapan oleh KKB adalah Slamet Riyadi (26 tahun), warga Desa Kedondong Demak. Dia bahkan sampai terjerumus di septic tank karena lari ketakutan setelah dikejar oleh KKB. Namun justru itu yang membuatnya terselamatkan dari penyekapan.
“Kita kan disisir dua kali. Yang kedua kalinya saya lari. Dikejar pakai senjata, sampai masuk ke septic tank. Awalnya itu saya kira kandang ayam, ternyata septic tank. Saya dalam septic tank dari jam delapan malam (sekitar pukul 20.00) sampai jam tujuh pagi (sekitar pukul 07.00),” ungkap dia.
Selama disekap di kampung Longsoran Mimika Baru Papua tempatnya tinggal, Slamet dan rekan-rekannya hanya diberi makan sehari dengan nasi putih dan garam. Untuk minum, mereka hanya mengandalkan air hujan. Belum lagi suara tembakan yang terdengar setiap malam, membuat suasana kampungnya mencekam.
“Kalau malam disandera di kampung. Makan sehari cuma sekali, nasi sama garam. HP disita. Setiap hari digeledah. Kalau pagi masih bisa senyum. Tapi kalau malam sudah tidak bisa bicara. Banyak tembakan. Saya trauma dengan kejadian ini,” tuturnya.[Humas Jateng]


Roni/kabarjateng.com

0 komentar:

Posting Komentar