Jumat, 22 September 2017

Warga Desa Wanasari Antusias Nonton Film G30S/PKI

Kabarjateng.com,Brebes:Ratusan warga, Jumat malam [22/9/2017], memadati lapangan sepak bola Desa Wanasari Kecamatan Wanasari Kabupaten brebes, nonton bareng film pengkhianatan G-30-S/PKI.[Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia].

Melalui layar lebar berukuran 3X6 meter, sebuah film maha karya sejarah karya Arifin C.Noer yang sejak tahun 1998 tidak di putar, kini kembali diputar dan di tonton ratusan warga desa Wanasari dan sekitarnya.

Di tengah lapang, orang tua, remaja dan anak anak antusias nonton bareng film G30S/PKI hanya dengan hanya  beralasan rumput tanah lapang.

Adanya film sejarah yang beberapa puluh tahun tak di pertontonkan,beberapa warga terutama kalangan remaja bahkan mengatakan tidak tahu kapan terjadinya gerakan pemberontakan PKI, sehingga adanya acara nonton bareng sangat di apresiasi.

Dimas Prayogi [19] salah satu mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang hadir pada acara nonton bareng film G30 S/PKI mengatakan “ Kami sangat mengapresiasi di putarnya kembali film G30 S/PKI, selain kami ingin melihat langsung film tersebut, pemutaran film ini juga bisa mengingatkan kembali akan sejarah bangsa ini” kata Dimas.

Selain itu beberapa orang tua juga turut antusias menonton hingga usai.” Sekitar 19 tahun lalu Film ini tidak di tayangkan lagi di Televisi, sehingga adanya pemutaran kembali film pemberontakan PKI akan mengingatkan kembali tentang sejarah, bahkan kami ajak anak cucu kami untuk ikut nonton ” terang Sayid [60].

Namun di katakanya ketika adegan yang di rasa kurang pas untuk di tonton anak anak, Sayid akan menutup mata cucunya untuk menghindari rasa takut pada anak anak.

Sementara di tempat terpisah,Komandan Kodim 0713/Brebes Letkol Inf Ahmad Hadi Hariono, mengatakan “ Sesuai dengan instruksi Panglima TNI,Jendral Gatot Nurmantyo, kami siap memutar kembali film G-30-S/PKI di setiap desa,"Ujar A Hadi Hariono.Jum’at 22 september 2017.

Hadi mengatakan pemutaran film tersebut untuk mengingat kembali aksi kekejaman yang dilakukan PKI. Sebab, sejak reformasi pada 1998, film garapan Arfin C. Noer tersebut tak lagi rutin diputar. " ujarnya.

Selain di desa-desa, pemutaran film akan digelar di sekolah-sekolah. Pertimbangannya, banyak generasi muda yang lahir setelah 1998, yang tidak pernah menonton film tersebut. "Sejarah ini jangan sampai terputus. Masyarakat perlu mempelajari sejarah yang sesungguhnya," ujarnya.[RN]

0 komentar:

Posting Komentar