Rabu, 19 April 2017

Kurangnya Respon Kabupaten Brebes, GP3A lakukan Gebragan Sendiri


Kabarjateng.com, Brebes – Kabupaten Brebes, sebuah wilayah ujung barat Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat. Sebagai wilayah terluas ke dua sejawa tengah sebernya memiliki tanah yang subur, dengan bawang merah sebagai sentra hasil pertanian kabupaten brebes, tentunya air menjadi vital untuk menunjang pertanian, namun kurangnya pembangunan selama ini yang tidak memenuhi kebutuhan petani akan air, membuat petani geger kelangkaan air, kusunya petani di wialyah brebes utara.

Melalui Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air[GP3A], Wakyani, Ketua GP3A meski banyak mendapat cibiran, karena keprihatinanya pada nasib petani, dirinya berusaha menerobos masuk ke pihak yang lebih tinggi berusaha mengadukan nasib petani. dengan tekadnya akhirnya pihaknya berhasil meyakinkan pemerintah menggelontorkan anggaran guna realisasi normalisasi sungai irigasi pemali hilir.

Tidak kurang anggaran pemerintah sekitar 235 milyar berhasil di gelontorkan untuk perbaikan normalisasi irigasi yang rusak berat. Saat ini pembangunan pengamanan tebing dan normalisasi irigasi sekitar 31 titik pada aliran irigasi sungai pemali hilir telah berjalan, di rencanakan pembangunan seleai pada akhir tahun 2018. Selain itu perbaikan jembatan talang poncol yang menelan anggaran 195 milyar juga telah di gelontorkan.


Meski keberhasilanya banyak di apresiasi sejumlah pihak, namun mantan karyawan Nindia Karya tersebut menyayangkan kepada kewenangan penyelenggara negara kabupaten brebes yang di anggap kurang merespon adanya usulan dari petani. Menurutnya mestinya ada penyelenggara negara yang wajib menampung aspirasi menyampaikan dan berusaha merealisasikan, namun selama ini justru pihaknya hanya berjuang sendiri hingga ke pihak penyelenggara yang lebih tinggi.

“Mestinya kami tidak langsung kesana, mestinya ada penyelenggara negara tingkat kabupaten yang harus memperjuangkan, saya hanya melalui perjalanan silaturahmi, dan saya sampaikan permasalahan yang ada, apakah keliru, apakah salah” ungkapnya.

“Kami juga sering di sudutkan oleh beberapa pihak yang katanya hanya mencari keuntungan pribadi atau golongan, jangankan sekian persen, 0,000pun tidak ada, dan kami tidak minta itu karena bukan hak, kami hanya prihatin dengan irigasi irigasi yang rusak berat, serta para petani geger kelanggkaan air” bebernya lagi.

Dirinya berharap dengan pembangunan yang ada dan telah berjalan, semua pihak dapat bersama sama memanfaatkan apa yang ada, tidak perlu harus berburuk sangka, apalagi para petani sebagai pahlawan pangan mestinya selayaknya harus di perjuangkan nasibnya.


EmoticonEmoticon