Selasa, 07 Maret 2017

Nama Samin Dimanfaatkan Penolak Pabrik Semen

Kabarjateng.com, Pati - Selasa (07/03) Pengakuan mengejutkan disampaikan sejumlah tokoh sedulur sikep di Kabupaten Pati. Mereka mengatakan bahwa selama ini nama Samin telah dimanfaatkan untuk kepentingan para penolak pabrik semen baik di Pati maupun Rembang.

Sutoyo (82), salah satu tokoh Sedulur Sikep asal Pati mengatakan, bahwa dirinya pernah didatangi sejumlah orang yang ingin mengecek penyaluran bantuan untuk Sedulur Sikep. Di antaranya bantuan benih tanaman dan uang sebesar Rp 150 juta dari sebuah perusahaan jamu di Semarang. Bantuan itu diminta oleh Gunretno, atas nama Komunitas Sedulur Sikep.

Dari situ lah ia tahu bahwa selama ini Sikep telah dimanfaatkan oleh para penolak pabrik semen, terutama Gunretno, untuk beragam kepentingan.

“Sikep mung dadi jalaran. Gawe demo jarene wong sikep, njaluk ngene njaluk ngono atas nama wong sikep. Sing aweh moro mrene tekok aku, ngecek, tekan opo ora. Wah lha iki wong sikep dienggo badutan bocah, ora ruh rasa nangkane, tapi gabul pulute (Sikep cuma jadi atas nama. Demo atas nama orang Sikep, minta ini minta itu atas nama Sikep. Yang memberi itu ke sini tanya saya, mengecek, apakah bantuan sampai betul. Wah ini Sikep cuma dipakai sebagai badut (topeng) anak-anak, tidak menikmati nangka tapi malah kena getahnya,” kata Sutoyo, Senin (6/3).

Hal itu disampaikan Sutoyo kepada wartawan di rumahnya, Dukuh Bombong, Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo, Pati. Sutoyo bersama Manio, Darmo, Rami, Kusmanto dan beberapa warga Sedulur Sikep lain menjawab pertanyaan wartawan yang ingin mengetahui sikap mereka pasca terbitnya izin lingkungan PT Semen Indonesia di Rembang.

Sutoyo mengaku sudah tahu bahwa izin lingkungan baru untuk PT SI sudah terbit. Namun baginya hal itu tidak berpengaruh apa-apa karena sejak awal memang bersikap netral pada pabrik semen. Justru, jika Gunretno mengatasnamakan Sedulur Sikep menolak pabrik semen, hal itu tidak benar.

Bagi Sutoyo dan tetua Sikep lainnya, Gunretno yang memimpin demo penolakan pabrik semen adalah orang Sikep yang sudah lupa pada ajaran leluhur. Ajaran Samin Surosentiko melarang anak cucunya mengumbar suara, iri, dengki, dan menjelek-jelekkan orang lain.

Dirinya pernah menyampaikan langsung pada Gunretno, namun yang bersangkutan malah mengalihkan pembicaraan. “Malah ngomong soal gunung dan mata air. Saya bilang tidak bertanya itu, saya bertanya demo itu ajarannya orang Sikep mana,” kata Sutoyo, masih dengan bahasa Jawa ngoko.

Sutoyo ingat pernah tiga kali diajak demo menolak pabrik Semen baik di Rembang maupun di Pati oleh Gunretno. Dirinya tidak pernah mau. Menurutnya yang ikut demo dari orang Sedulur Sikep cuma beberapa. Justru banyak orang dari desa lain yang didandani mirip orang Sikep.

“Yang diajak demo tidak ada yang mau. Gunretno menggunakan orang desa lain. Pakai baju hitam-hitam, pakai ikat kepala, menyaru jadi orang Sikep,” katanya.

Tokoh Sedulur Sikep Manio (46), menambahkan, leluhurnya mengajarkan untuk mencintai alam dan memanen hasil alam untuk kesejahteraan masyarakat. Namun begitu, penolakan terhadap pabrik semen tidak bisa didasarkan pada ajaran Sikep. Sebab Sikep melarang demo, mencaci maki orang lain, dan ikut campur pada urusan orang lain.

Hal ini terkait pendirian pabrik PT Semen Indonesia di Rembang yang tidak ada sangkut pautnya dengan Sedulur Sikep. Sebab Komunitas Sikep tidak ada di Rembang. hanya ada Pati, Kudus, Blora, dan Bojonegoro Jawa Timur.

“Kita tidak boleh ngurusi dan ngrusuhi yang bukan hak kita. Lagipula memanfaatkan alam untuk kesejahteraan manusia itu boleh, kalau memang nanti jadinya merusak pasti akan kena hukum alam sendiri,” kata Manio.
*merdeka


EmoticonEmoticon