Senin, 06 Maret 2017

Inilah Alat dan Teknologi Hijau di Pabrik Semen Rembang

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mengusung Teknologi Hijau (Green Technology) untuk pabrik di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dengan konsep Green Technology, udara di Rembang di klaim lebih bersih, bahkan lebih bersih dari Jakarta.

Corporate Secretary PT Semen Indonesia Agung Wiharto menjelaskan Green Technology yang diterapkan di pabriknya itu terdiri dari dua aspek. Pertama aspek peralatan, dan kedua dari aspek cara menambang. 

"Peralatan tertentu tidak bisa terlepas dari desain pabrik. Karena kita menyebutnya sebagai pabrik yang hijau, pabrik di Rembang dari sisi heat consumption 730 kcal per kg clinker (bahan setengah jadi semen). Sementara pabrik-pabrik pada umumnya di atas 800 kcal. Jadi lebih hemat," ujar Agung Wiharto dalam keterangan tertulis, Selasa (28/2/2017).

Agung menjelaskan pabrik di Rembang memiliki penyaring debu (dust emission) yang partikel buangannya lebih rendah dari pabrik di Tuban. Jika di Tuban partikel buangannya hanya 50 mg per Nm3, di Rembang di bawah 30 mg per Nm3. Itupun menurut Agung sudah jauh di bawah standar yang diterapkan pemerintah sebesar 80 mg per Nm3.

"Dan itu aman bagi manusia. Ibaratnya, dengan peralatan ini, kita lebih aman berada di Rembang dibanding di Jakarta yang dipenuhi polusi kendaraan," klaim Agung.

Selain itu, konsumsi listrik pabrik di Rembang juga lebih hemat di banding pabrik Tuban. Total konsumsi listrik di Tuban 110 Kwh/ton, sementara Rembang kurang dari 90 KWh/ton. 

"Menghemat hingga 40 persen dari desain standar. Kalau listriknya hemat, berarti juga menghemat batubara," tuturnya.

Mesin-mesin yang digunakan di pabrik Rembang jauh lebih canggih dibanding pabrik Tuban. Jika di Tuban teknologinya terakhirnya tahun 2012, sementara di Rembang teknologinya tahun 2016.

Agung membeberkan sejumlah peralatan canggih di pabrik Rembang. Di antaranya Lime Stone Crusher yang berfungsi menghancurkan batu kapur sampai ukuran 70 mm. Surge bean yang berfungsi menjaga stabilitas aliran material. 

"Batu kapur kemudian dibawa melalui downhill longbelt conveyor sejauh 4 km lebih. Jadi kita di Rembang nggak perlu pakai truk untuk angkut batu kapur seperti di Tuban. Dirakit dengan sistem yang menghemat konsumsi listrik hingga 20 persen dibanding desain standar pemerintah," paparnya. 

Main Storage dan Clay Crusher, lanjut Agung, mampu menghancurkan 40 ribu ton tanah liat sampai ukuran 70 mm. Sementara Lime Stone Storage berfungsi mencampur batu kapur dan tanah liat. Ada juga Vertical Raw Mill yang berfungsi menggiling bahan baku sampai kehalusan 90 mikron sebagai umpan poses final. 

"Main Back House Filter yang berfungsi menyaring debu hingga 30 mg per meter kubik udara. Pre Heater dan Blending Silo. Mainset Pre Heater mampu menghemat 2.000 ton batubara per tahun dan 30 persen air per menit," tuturnya. 

Rotary Fillen mampu memproduksi 8.000 ton clinker atau bahan setengah jadi semen per hari. Kapasitas penyimpanan 80 ribu ton clinker. 

"Korektif dan additive storage yang menghemat konsumsi dari alat berat. Kapasitas 2 x 254 per jam dan menghemat 30 persen konsumsi listrik," jelasnya.

Semen silo berkapasitas 20.000 ton per silo. Semen packing dilengkapi empat rotary packing berkapasitas 2.400 per jam per set. Cool storage dilengkapi total reclaimer yang mampu menghemat 250 ton batubara per jam. Cool branding vertical mill dengan kapasitas 80 ton per jam. 

"Water treatment dan oil central control room. Kita nggak pakai air tanah, tapi pakai air tadah hujan untuk pendinginan. Kami sudah membangun embung tadah hujan yang berkapasitas 21 ribu meter3," beber Agung.

"Dengan berbagai peralatan tadi, emisi gas rumah kaca berkurang sebesar 80 ribu ton per tahun. Jadi menghemat pemakaian air, listrik dan bahan bakar. Ini yang kita sebut pabrik green technology," pungkasnya.


EmoticonEmoticon