Kamis, 09 Maret 2017

Bocah Asal Wonogiri Usia 6 Tahun Ketagihan Merokok Tegesan Terinfeksi Penyakit Paru-paru

Kabarjateng.com, Wonogiri - Seorang bocah berusia 6 tahun warga Wonogiri Jawa Tengah mempunyai kebiasaan yang tidak wajar. Anak itu mempunyai kebiasaan merokok sejak berusia tiga tahun. Namun, kebiasaan itu berhenti dua bulan lalu setelah dia mengalami gangguan paru-paru.

Kepada wartawan Fajar Sodiq yang mengunjungi kediaman keluarga NS, ibu bocah tersebut, M,
"Januari kemarin NS sering panas. Terus saya bawa ke dokter anak. Menurut dokter, ada masalah di paru-paru," kata M ibunda NS kepada wartawan BBC, Fajar Sodiq yang mengunjungi kediamannya di Wonogiri.

Dia pun kemudian membawa anaknya ke Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Solo. Dari hasil pemeriksaan darah, NS mengalami infeksi paru-paru dan alergi debu, akibat merokok.

"Sejak Februari, dia harus kontrol sebulan sekali... dan harus minum obat dua kali (sehari)," kata M.
NS adalah contoh semakin banyaknya perokok anak di tanah air. Berdasarkan data Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN, lebih 30% anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun. Jumlah itu mencapai 20 juta anak.

Ketua Lentera Anak, sebuah organisasi yang membela hak-hak anak, Lisda Sundari, mengungkapkan banyaknya perokok anak, karena banyak pula 'model perokok' di sekitar mereka.

"Anak adalah peniru terbaik. Model ini bisa orang tua, guru, kakak mereka yang merokok sembarangan, di rumah, sekolah, angkutan umum. (Kondisi tersebut) membuat merokok seolah-olah adalah hal yang biasa dilakukan orang dewasa, dan memberi kenikmatan."

Pada kasus NS, perkenalan awalnya dengan rokok dimulai sejak ayah atau kakeknya menyuruh NS, yang kala itu masih berusia tiga tahun, membeli rokok di warung. Setiap membawa rokok dari warung, kemasannya selalu sudah terbuka.

"Itu nggak tahu apa dirokok (sama dia) atau rokoknya dipotong-potong. Tetapi yang pasti jumlah rokoknya selalu berkurang," ungkap M.

Meskipun begitu, si ibu mengaku ia tidak pernah melihat anaknya merokok. Ketika ayah dan kakeknya merokok, NS "sama sekali tidak pernah ikutan merokok."

NS pun kerap memungut puntung rokok dan menghisapnya. Ketika kebiasaan merokoknya semakin 'menjadi-jadi' keluarga ini pun kewalahan menghentikan anaknya. "NS mengangis kalau dilarang merokok". NS pun mulai mencari tegesan atau puntung rokok di asbak untuk dihisap.

"Bahkan, jika ada orang yang datang ke rumahnya, NS selalu meminta rokok."

Tapi saat ini kondisinya sudah berbeda. NS sudah mulai sembuh. Menurut Ibunya, Ia sudah tidak lagi merokok. Pun saat diminta ayah atau kakeknya membeli rokok, kemasannya selalu tertutup. "Kalau sekarang sudah nggak berani membuka bungkus rokoknya, " kata dia.

Namun, Lisda Sundari menegaskan 'model perokok', yang dalam kasus NS adalah ayah dan kakeknya, harus benar-benar menjauhkan kebiasaan merokok dan hal-hal terkait rokok dari NS agar benar-benar bisa keluar dari kebiasaan rokok.
*BBC

0 komentar:

Posting Komentar